STABILISASI TANAH DENGAN MEMANFAATKAN SERUTAN KAYU DAN POLYACRYLAMIDE UNTUK LERENG JALAN YANG MUDAH TEREROSI (SOIL STABILITATIONS USING WOOD SHAVINGS AND POLYACRYLAMIDE FOR ERODIBLE’S ROAD SLOPE)

Isi Artikel Utama

Asep Sunandar
Sri Yeni Mulyani

Abstrak

ABSTRAKDi Indonesia, erosi pada lereng jalan mencapai 120-400 ton ha-1 tahun-1 (Kusminingrum, 1991). Hal ini akan mengakibatkan dampak negatif seperti kerusakan pada infrastuktur jalan dan keselamatan pengemudi. Stabilisasi tanah dengam memamfaatkan serutan kayu dan polyacrilamide (PAM) dalam campuran hydroseeding diharapkan dapat menurunkan erosi permukaan lereng jalan. Hal ini diindikasikan dengan adanya perubahan sifat fisika tanah yaitu menurunkan bobot isi tanah, meningkatkan porositas tanah, meningkatkan kemantapan agregat dan C-organik tanah. Tujuan penulisan makalah penelitian ini adalah membahas kombinasi terbaik antara serutan kayu dan PAM dalam campuran hydroseeding terhadap beberapa sifat fisika tanah. Metode penelitian dalam makalah ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Pola Faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah serutan kayu dengan empat taraf yaitu  0 g m-2, 250 g m-2, 350 g m-2, 450 g m-2 dan faktor kedua adalah PAM dengan empat taraf yaitu 0 g m-2, 1 g m-2, 2 g m-2, 3 g m-2 dengan pengulangan tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi terbaik antara serutan kayu dan PAM dalam campuran hydroseeding memberikan hasil yang berbeda-beda untuk bobot isi, porositas, kemantapan agregat dan C-organik tanah. Kombinasi 350 g m-2 (s2) serutan kayu dengan PAM  2 g m-2 (p2) memberikan hasil yang terbaik terhadap bobot isi dan porositas tanah. Kombinasi serutan kayu 450 g m-2(s3) dengan PAM 2 g m-2 (p2) memberikan hasil yang terbaik terhadap kemantapan agregat tanah. Kombinasi serutan kayu 450 g m-2(s3) dengan PAM 3 g m-2(p3) memberikan hasil yang terbaik terhadap C-organik tanah.  Kombinasi terbaik antara serutan kayu dengan PAM tersebut diharapkan dapat mengoptimalkan peranan campuran hydroseeding dalam menurunkan besarnya erosi yang terjadi pada permukaan lereng jalan.Kata Kunci: erosi, hydroseeding, bobot isi, kemantapan agregat tanah, porositas tanah dan C-organik tanah. ABSTRACTIn Indonesia, sheet erosion on road slope has reached 120-400 ton ha-1 years-1 (Kusminingrum, 1991). This condition caused negative effect such as  road infrastructure damaging  and  road user safety. Soil stabilization using wood shavings and polyacrylamide (PAM) to the hydroseeding mixture is hoped to reduce sheet erosion on road slopes. This condition is indicated through land physical properties changes by reducing   soil bulk density, increasing soil porosity, soil aggregate stability and soil C-organic. This research paper aims to  explain the best level of measurement  of wood shavings and PAM in hydroseeding mixture in the context of physical properties of soil. The study method of this paper uses Factorial Randomized Block Design with two factors. The first factor using  wood shavings with four levels ie 0 g m-2, 250 g m-2, 350 g m-2, 450 g m-2 and second factor using  PAM with four levels ie 0 g m-2, 1 g m- 2, 2 g m-2, 3 g m-2 with three times repetitions. The study shows the best combination of wood shavings and PAM in hydroseeding mixture gives various results in terms of   soil bulk density, soil porosity, aggregate stability and soil C-organic. The combination of 350 g m-2 (s2) of wood shavings with PAM 2 g m-2 (p2) gives the best result in terms of bulk density and  porosity of the soil. The combination of wood shavings 450 g m-2 (s3) with PAM 2 g m-2 (p2) gives the best result  in terms of  aggregate stability. The combination of wood shavings 450 g m-2 (s3) with PAM 3 g m-2 (p3) gives the best results on the C-organic soil. The best combination between wood shavings and PAM can optimizing the hydroseeding function on reducing sheet erosion of road slope.   Keywords: erosion, hydroseeding, soil bulk density, soil agregate stability, porosity of the soil and soil C-organic

Rincian Artikel

Bagian
Jalan dan Jembatan

Referensi

Alexander and Miller, 1991. The Effect of Soil Aggregate Size on Early Growth And Shoot-Root Ratio of Maize (Zea mays. L). Palnt and Soil. 138.189-194.
Arsyad S. 2000. Konservasi Tanah dan Air. Departemen Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Indonesia, Departemen Pertanian. Balai Penelitian Tanah. 2005. Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air dan Pupuk. Bogor: Departemen Pertanian.
Indonesia, Departemen Pertanian. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2006. Sifat Fisik Tanah dan Metode Analisisnya. Bogor: Departemen Pertanian
Indonesia, Departemen Pekerjaan Umum. Direktorat Jenderal Bina Marga. 1991. Spesifikasi Penguatan Tebing. Jakarta: Departemen Pekerjaan Umum.
Brady, N. C. 2002. The Nature and Properties of Soil. Mac Millan Publishing Co., New York.
Faucette. 2007. Erosion Control and Strom Water Quality from Staw with PAM, Mulch and Commost Blanket of Varying. Journal Soil and Water Conservation. Edition 30:183-185.
Gasperz, V.1991. Metode Perancangan Percobaan. CV. Armico, Bandung.
Gomez, K. A dan A. A. Gomez. 1995. Prosedur Statistika untuk Penelitian Pertanian. Terjemahan E. Syamsuddin dan J. S Baharsyah. UI-Press, Jakarta. Jilid II.
Greacen, E. L. 1981. Physical Properties and Water Relations. Red-Brown Earths of Australia. J. M. Oades, D. G. Lewis and K. Norrish (Eds.). Waite Agricultural Research Institute, University of Adelaide and CSIRO Division of Soils. Adelaide, South Australia. 83-96.
Hanafiah. 2005. Dasar-dasar Ilmu Tanah. PT raja Grafindo Persada. Jakarta.
Hakim, N., M. Y. Nyakpa, A. M. Lubis, S. G. Nugroho, M. A. Tina, G. B. Hong dan H. H. Bailey. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung, Lampung.
Indriani, L., Sukardi Wisnubroto dan M. Drajad. 1997. Pengaruh Pembenah Tanah Terhadap Efisiensi Penggunaan Air Tanaman Kedelai (Glycine max. L) pada Regosol. Fakultas Pertanian, Universitas Gajah Mada,Yogyakarta. Skripsi (Tidak Dipublikasikan).
Istikowati.2011. Kimia Kayu. Online:Http://kyoshiro67.files.wordpress.com/2014/ kimia-kayu-3. (Diakes Tanggal 23 oktober 2014).
Junianto. 2003. Teknik Penangkaran Ikan. Penebar Swadaya, Jakarta.
Kartasapoetra. 1985. Teknologi Konservasi Tanah dan Air. PT Rineka Cipta. Jakarta.
Indonesia, Kementerian Pertanian. 2009. Persyaratan Teknis Minimal Pembenah Tanah. Kementerian Pertanian, Jakarta.
Mariana, H. 2006. Pengaruh Kompos Ampas Tapioka dan Pemberian Air terhadap Ketersediaan Air dan Pertumbuhan Tnaaman Sawi (Brassica juncea. L) pada Entisol Wajak, Malang. Jurusan Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang. Skripsi (Tidak Dipublikasikan).
Muklis. 2007. Analisis Tanah dan Tanaman. Medan: Universitas Sumatera Utara.
Mulyatri. 2003. Peranan Pengelolaan Tanah dan Bahan Organik Terhadap Konservasi Tanah dan Air. Prosiding Nasional Hasil-Hasil Penelitian dan Pengkajian Teknologi Spesifik Lokasi, Jambi.
Munir, M. 1996. Tanah-Tanah Utama Indonesia. Jakarta: Pustaka Jaya.
Kusminingrum, Nanny. 1991. Penanggulangan Erosi Lereng Jalan. Puslitbang Jalan dan Jembatan. Bandung.
Kusminingrum, N., dan Sunandar, A. 2014. Komposisi Campuran Biji Rumput Untuk Bahan Pengendali Erosi Permukaan Dengan Teknologi Hidrosiding. Prosiding Kolokium Jalan dan Jembatan ke-7. ISBN :978-602-264-038-7.
Pravin R, C., D. V. Ahire, V. D. Ahire, M. Chkaravarty and S. Maity. 2013. Soil Bulk Density as Related to Soil Texture, Organic Metter Content and Available Total Nutrients of Coimbatore Soil. International Journal of Scientific and Research Publication. 3 (2).
Indonesia, Kementerian Pekerjaan Umum. Puslitbang Jalan. 2013. Aplikasi Teknologi Hidroseeding Rumput Bahia untuk Penanganan Erosi Permukaan Lereng Jalan. Jakarta: Kementerian Pekerjaan Umum.
Indonesia, Departemen Pertanian. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat (Puslittanak). 2000. Atlas Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia. Skala 1:1.000.000. Bogor: Departemen Pertanian.
Thomas, R.S., R.L Franson and G.J. Bethelenfalvay. 1993. Separation Of VAM Fungus and Root Effect on Soil Agregation. Soil Sci. Edition :57: 77-31.
Santi, L. P., A. Dariah dan D. H. Goenadi. 2008. Peninglatan Kemantapan Agregat Tanah Mineral oleh Bakteri Penghasil Eksopolisakarida. Jurnal Litbang Pertanian Vol 76 (2). Hal : 93-103.
Sarief, E. S., 1998. Ilmu Tanah Pertanian. Bandung: Pustaka Buana.

Sunandar, A. 2013. Penanganan Erosi Permukaan Lereng Jalan Secara Vegetatif Melalui Teknologi Hydroseeding. Bandung: Adika.
Sutono dan A. Abdurrachman. 1997. Pemanfaatan Soil Conditioner dalam Upaya Merehabilitasi Lahan Terdegradasi. Prosiding Pertemuan Pembahasan dan Komunikasi Hasil Penelitian Tanah dan Agroklimat: Cisarua, Bogor. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor. Hlm 107-122.
Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Bogor: IPB Press.
United States, Departemen of Agriculture. Natural Resources Conservation Service. 2010. Keys Soil Taxonomy Eleventh Edition. New York: United States Departemen of Agriculture.
Utomo, W.H. 1985. Fisika tanah. Fakultas Pertanian. Universitas Brawijawa.
Yang Li Xia, Sun. Ye, Fei Fei and Luo, S. 2011. Ploacrilamide Molecular Formulation Effect On Erosion Control Of Disturbed Soil On Sleep Rocky Slopes. Canadian Journal of Soil Science. Edition 62:77-85.
Yeni, Sri., Sunandar, A dan Kusminingrum, N. 2015. Kajian Pengaruh Peranan Material Hydrosiding Terhadap Sifat Fisik Tanah. Badan Penelitian dan Pengembangan Jalan, Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta.
Yuwono N.W. dan Rosmarkan. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Yogyakarta: Kanisius.