PEMODELAN JARINGAN JALAN HIGH GRADE HIGHWAY DALAM MENDUKUNG TARGET MP3EI DI KORIDOR I-SUMATERA

Isi Artikel Utama

Harlan Pangihutan
Achmad Sidhi Purnama

Abstrak

ABSTRAKDalam dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) koridor ekonomi Sumatera mempunyai tema Sentra Produksi dan Pengolahan Hasil Bumi dan Lambang Energi Nasional. Secara geostrategis, Sumatera diharapkan menjadi “Gerbang ekonomi nasional ke Pasar Eropa, Afrika, Asia Selatan, Asia Timur, serta Australia”. Secara umum, Koridor Ekonomi Sumatera berkembang dengan baik di bidang ekonomi dan sosial dengan kegiatan ekonomi utama seperti perkebunan kelapa sawit, karet serta batubara. Dengan target pertumbuhan ekonomi, USD 15.000 per kapita pada tahun 2025, maka dapat dibayangkan betapa pesatnya kegiatan ekonomi di Pulau Sumatera terutama untuk kegiatan ekonomi utama seperti kelapa sawit, karet, dan batubara. Hal ini tentu akan berdampak pada kondisi lalu lintas di Pulau Sumatera itu sendiri. Dengan menggunakan pendekatan pertumbuhan produksi, studi ini bertujuan untuk memperkirakan kondisi Jaringan Jalan Nasional di Pulau Sumatera sampai tahun 2030. Kondisi jaringan jalan akan dinilai berdasarkan angka rata-rata derajat kejenuhan serta waktu tempuh dari ujung Provinsi Lampung sampai Banda Aceh.  Hasilnya, pada tahun 2014, kondisi Jalan Lintas Timur nilai derajat kejenuhannya 0,494 dan waktu tempuhnya 51 jam. Untuk memvalidasi hasil tersebut, digunakan data waktu tempuh dari IRMS , yang bila dihitung dari Provinsi Lampung sampai Banda Acehadalah 50,3 jam, artinya model tidak begitu jauh berbeda dengan kondisi aslinya. Berikutnya dengan angka pertumbuhan rata-rata 9,69%, kondisi Jalan Lintas Timur pada tahun 2020 nilai derajat kejenuhannya 0,758 dan waktu tempuhnya 63,1 jam. Artinya pada tahun 2020 ini jaringan Jalan Lintas Timur berada dalam kondisi hamper jenuh. Bila tidak dilakukan sesuatu, maka target pertumbuhan ekonomi yang disebutkan dalam MP3EI tidak akan tercapai, karena yang terjadi adalah transportasi biaya tinggi. Untuk itu pada tahun 2020 sudah harus dibangun suatu jaringan jalan baru untuk mendukung pergerakan yang semakin besar ini. Bila dilakukan pelebaran jalan, maka kondisi jaringan jalan akan membaik. Jalan Lintas Timur derajat kejenuhannya turun sampai ke angka 0, 437 dan waktu tempuhnya 49,0 jam. Begitu juga pada tahun 2025, derajat kejenuhan masih dibawah batas jenuh, yaitu 0,685 dengan waktu tempuh 57,8 jam. Kondisi baru memburuk pada tahun 2030, derajat kejenuhan sudah sampai ke angka 1,053 dengan waktu tempuh 122,2 jam. Dengan rencana Kementerian Pekerjaan Umum membangun suatu jaringan jalan High Grade Highway untuk mendukung program MP3EI, yang menghubungkan sebagian besar Pusat Kegiatan Nasional (PKN) di Pulau Sumatera. Hasilnya masalah yang terjadi pada tahun 2030 kondisi Jalan Lintas Timur membaik, derajat kejenuhan turun sampai ke angka 0,711 dan waktu tempuhnya 67,9 jam. Hal ini menunjukkan bahwa, selain program HGH, pelebaran jalan di jalan lintas sangat dibutuhkan dalam mendukung transportasi barang dan permintaan perjalanan yang semakin besar di masa mendatang.Kata kunci : High Grade Highway, Dokumen MP3EI, jalan lintas timur Sumatera, derajat kejenuhan, Pemodelan Jaringan Jalan

Rincian Artikel

Bagian
Jalan dan Jembatan